Minggu, 09 November 2025

Diriku dan Kata

Namaku Yaya, nama yang unik kurasa... Orang bilang aku banyak bicara. Dan mungkin, mereka benar. Aku bisa berbicara lama tentang topik yang tak penting—tentang film yang kusuka, tentang bunga yang baru mekar di halaman, bahkan tentang kucing yang kutemui di jalan. Aku mudah berinteraksi, mudah tertawa, mudah membuat suasana jadi hangat. Tapi, anehnya, ketika seseorang mulai bertanya tentang apa yang sebenarnya aku rasakan… lidahku beku.

Aku bukan tidak mau jujur, aku hanya tidak tahu harus mulai dari mana. Perasaanku sering rumit, seperti benang kusut yang sulit diurai. Kadang aku iri pada orang yang bisa menangis di depan banyak orang—sementara aku bahkan kesulitan mengaku sedang sedih.

Aku tumbuh menjadi seseorang yang berpikir banyak tapi jarang menunjukkan apa yang kupikirkan. Aku bisa membaca suasana hati orang lain, tapi sulit memahami milikku sendiri. Di sekolah, aku dikenal rajin dan bisa diandalkan. Tapi tak banyak yang tahu betapa sering aku merasa lelah, hanya karena terlalu takut mengecewakan siapa pun.

Ada luka yang tidak perlu dijelaskan, ada air mata yang cukup dimengerti oleh hati yang sabar. Aku percaya, tidak semua kesedihan harus disembunyikan, tapi juga tidak semua perlu ditunjukkan.

Aku menyukai hal-hal sederhana yang sering dilewatkan orang: kucing yang menggeliat malas di bawah cahaya sore, bunga mawar yang diam-diam mekar di halaman, sepotong coklat yang meleleh pelan di lidah setelah hari yang panjang. Dari hal-hal kecil itu, aku belajar bahwa kebahagiaan bukan sesuatu yang dicari jauh-jauh. Ia tumbuh di dekat kita, sesederhana napas yang diambil tanpa disadari.

Di sekolah, aku menjalani apa pun yang datang kepadaku, bahkan yang tidak kuminta. Kadang aku merasa seperti aktor dalam cerita orang lain, tapi aku tetap memainkan peranku dengan sepenuh hati. Mungkin itu bentuk tanggung jawab, atau mungkin juga cinta—cinta pada proses menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih lembut, lebih sadar akan makna setiap langkah.

Aku Yaya. Aku hidup di antara kata dan hening. Di antara tawa yang lantang dan perasaan yang tak sempat disebutkan. Mungkin aku belum sepenuhnya mengenal diriku sendiri, tapi aku terus belajar. Belajar menulis agar tidak tenggelam, belajar diam agar bisa mendengar, dan belajar berbicara tanpa takut terlihat lemah.

Sebab mungkin, keberanian sejati bukan soal seberapa banyak aku berbicara, melainkan kapan aku berani jujur, bahkan hanya kepada diri sendiri.

1 komentar:

  1. dan perlu mulai belajar mempersiapkan diri untuk tujuan kedepan... yang bukan kata orang, tp mempersiapkan diri yang benar sesuai jati diri dalam jalur yang sesuai...

    BalasHapus

Puisi "Lihat Aku Lagi"

  Lihat Aku Lagi Apakah pria itu benar menyayangiku? Mengapa semakin 'ku bertambah, semakin ia meraum? Apa karena aku tak asli? Mungkin ...